#KlipingPR Laga Pamungkas Djadjang Nurdjaman

Masyarakat Jawa Barat dilanda euforia. Kemenangan Persib atas Persebaya pada laga final Kompetisi Djarum Super Divisi Utama PSSI 1989-1990 atau Kompetisi Perserikatan telah bergema di seluruh Jawa Barat. Persib menang 2-0 (1-0) atas Persebaya Surabaya di Stadion Utama Senayan Jakarta, Minggu 11 Maret 2017.
Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 12 Maret 1990 mencatat sejarah itu. Ratusan ribu salinan koran ini dibeli masyarakat yang tengah bersuka cita itu. Foto Wali Kota Bandung Ateng Wahyudi yang diarak para ofisial Persib menghiasi halaman depan. Nama Ateng pun semakin populer, seperti halnya nama Persib yang mengharum setelah kemenangan di laga final itu.
Pelatih Persib Ade Dana sampai pingsan saking gembira. Teriakan “Hidup Persib” bergema di mana-mana di semua sudut Jawa Barat. Pesta masyarakat dilaporkan digelar tak hanya di Bandung tapi juga di Bogor, Sukabumi, hingga Tasikmalaya.
Yang mengejutkan justru adalah keputusan pemain senior Persib saat itu, Djadjang Nurdjaman, yang memilih untuk menjadikan pertandingan final itu sebagai laga terakhirnya di tim Persib. Djadjang yang kelak menjadi pelatih kepala tim Persib, saat itu memutuskan untuk menggantung sepatu karena kiprahnya di tim Maung Bandung dianggap sudah cukup.
Kedua gol yang menjadi penentu kemenangan tim Persib atas Persebaya di final Kompetisi Perserikatan 1989-1990 itu memang disarangkan oleh Dede Rosadi pada menit ke-59 dan gol bunuh diri pemain Persebaya pada menit ke-6. Namun, peran Djadjang Nurdjaman sangat vital pada dua gol tadi.
Pada susunan tim inti Persib saat itu, Djadjang Nurdjaman berada di lini depan bersama Dede Rosadi (menggantikan Nyanyang) dan Sutiono. Di lini tengah ada trio Asep Somantri, Adjat Sudradjat, dan Yusuf Bachtiar. Sementara di benteng pertahanan ada kuartet Dede Iskandar, Ade Mulyono, Adeng Hudaya, dan Robby Darwis. Banyak yang berpendapat, formasi Persib saat itu adalah yang terbaik sepanjang masa.
Kembali pada keputusan Djadjang Nurdjaman untuk berpisah dengan Persib, Kompetisi Perserikatan 1989-1990 itu adalah yang kelima kalinya bagi Djadjang sejak bergabung di Persib pada 1976. Pemain yang saat itu berusia 32 tahun memutuskan untuk kembali ke klubnya, PS Super D (Djarum Super) Bandung, di bawah asuhan pelatih asing Marek Janota.
“Mungkin usia saya sudah tidak memadai lagi sebagai pemain Persib. Oleh karena itu, kemenangan yang membawa Persib menjadi juara merupakan kebanggaan yang luar biasa,” kata Djadjang yang saat itu tercatat sebagai karyawan PLN Bandung.
Pemain kelahiran Sumedang 30 Maret 1958 tersebut menjadi bintang lapangan. Kunci fantastisnya permainan Djadjang, ia ungkapkan saat wawancara dengan wartawan PR saat itu. “Sejak awal saya bertekad untuk bermain all out. Selain ingin meninggalkan nama baik di Persib sebelum saya mundur, juga ingin mengantarkan Persib menjadi juara,” katanya.
Terakhir, Djadjang Nurdjaman menghadiahkan kemenangan Persib ini untuk seluruh masyarakat Jawa Barat, khususnya Kota Bandung.***

milan2012.org sbobet mobile Sumber: Pikiran Rakyat